Tulisan ini dibuat oleh saya dan geng Brisik Lestari dalam rangka 17 Agustusan. Saya mengajak Anda untuk berpikir dan berdiskusi dengan pikiran terbuka. Jika Anda tidak membuka wawasan, disarankan untuk tidak membaca tulisan ini. Dalam tulisan ini, “sekolah berlabel homeschooling” berada di luar konteks karena lembaga itu bukan homeschool.
Homeschool. Entah mengapa satu kata itu menjadi monster mengerikan bagi yang awam. Tengok saja, dalam berbagai percakapan maupun artikel, salah satu yang paling ditakuti adalah soal sosialisasi. Istilah “anak homeschool itu kuper” sudah sangat familiar di telinga saya. Kicauan sumbang itu terdengar keras saat anak-anak pamit dari sekolah setahun lalu.
Dulu saya menanggapi , sekarang tidak. Itu bedanya. Buat apa buang-buang tenaga pada orang yang sudah antipati? Menjelaskan pada orang yang sudah ngotot atas pendapatnya dan menutup segala bentuk informasi itu buang-buang waktu dan tenaga.
Lucunya, pendapat serampangan itu justru dilontarkan oleh mereka yang butatentang homeschool. Betapa gegabahnya sebuah argumen, opini, pendapat, apapun namanya yang dibangun atas dasar ketidaktahuan kalau bukan tidak mau tahu. Sebuah petuah Cina mengatakan “kenali musuhmu maka kau akan mengalahkannya”. Bagaimana bisa mengalahkan kalau tahu saja tidak?
Bagaimana kaum awam nan gegabah ini mampu memberi alasan dasar pemikiran atas pendapat itu? Di mana pembuktiannya? Saya hampir yakin kalau pendapat serampangan ini memang asal bunyi. Jika ditilik dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, pendapat kaum ini adalah bentuk kegelisahan dan ketakutan. Mereka gelisah dan takut atas sesuatu yang asing dan berbeda. Seperti halnya ketika kita melihat smartcar berpenumpang dua orang, berpostur mungil, ekonomis dari sisi penggunaaan bensin dengan harga lebih mahal dari mobil keluarga pada umumnya, misalnya. Juga seperti melihat binatang “aneh” ikan berwajah buaya, ayam tanpa bulu, dan sebagainya. “Sesuatu” itu menjadi istimewa dan disorot karena berbeda. Sebuah bulatan kuning di tengah banyak bulatan hitam tentu sangat menyolok.
Seperti halnya saya juga hampir yakin bahwa itu adalah ciptaan mereka sendiri. Mereka gelisah dan takut akan dianggap kuper jika anaknya homeschool. Mereka lalu melabeli orang lain sebelum dilabeli sebagai bentuk kompensasi tak terarah. Apakah ada buktinya? Jika bukti yang diajukan hanya segelintir, tentu juga tidak adil jika saya menyamaratakan semua sekolah dengan label minus, kan? Pendidikan menyangkut lembaga, entah itu keluarga, sekolah, maupun tempat kursus. Sungguh tidak adil jika semua keluarga, semua sekolah, maupun semua tempat kursus disamaratakan.
Sebetulnya, apa sih yang mendorong mereka untuk takut dan gelisah? Mari kita urai.
Jika seseorang dianggap bodoh, siapa yang menganggapnya bodoh? Tentu orang lain. Nyaris tidak ada manusia yang jika seumur hidupnya tidak dilabeli bodoh akan memberi label pada dirinya sendiri sebagai orang bodoh. Orang itu makin yakin jika ia bodoh setelah sekian lama orang menyebutnya bodoh. Akibat dari seringnya manusia melabeli orang lain dengan berbagai merek negatif tentu manusia jadi gelisah dan takut jika dirinya diberi merek yang tidak menyenangkan itu. Timbul naluri untuk melindungi diri sendiri lewat penyeragaman diri agar tidak terlihat berbeda.
Logis kan? Tidak perlu segala macam teori psikologi atau filsafat di sini. Saya hanya mengajak Anda semua berpikir, menggunakan akal budi yang diberi Tuhan pada kita.
Sebenarnya, bentuk sosialisasi ideal seperti apa yang diinginkan kaum awam itu sih? Setiap hari duduk berjam-jam dengan sekelompok teman sebaya dan berinteraksi terbatas? Coba tanya anak-anak di rumah, apakah mereka diijinkan ngobrol di kelas? Apakah ketika mereka kerja kelompok dibatasi untuk tidak berisik? Berapa menit dari sekian jam waktu mereka di sekolah dihabiskan untuk bermain dengan temannya? Bagaimana dengan anak-anak yang kerap kali diejek? Adakah peran sekolah atau guru di situ? Apa yang Anda lakukan jika anak Anda diolok-olok setiap hari sampai mogok sekolah? Apakah orang tua yang mengolok-olok akan menegur anaknya?
Pertanyaan berikutnya, apakah kita sudah sungguh merdeka? Merdeka dalam berpikir, memilih, memutuskan, dan bertindak? Apakah kami, homeschoolers, merdeka dari segala merek yang tidak menyenangkan itu? Merek tidak menyenangkan berbunyi “kuper” atau “antisosial” didengungkan seolah-olah mereka paham betul dan mampu mengatasi persoalan masing-masing keluarga homeschool yang mendasari pilihan kami.
Setiap kali saya mendengar kalimat, “Anaknya homeschool nanti kuper lho,” rasanya saya ingin bertanya balik. “Apa yang bisa Anda lakukan atas persoalan kami? Apakah Anda mampu mengobati luka batin anak saya yang sudah dilempar buku oleh gurunya? Apakah Anda mampu mengatasi bullying yang dialami anak saya? Apakah Anda mampu membuat setiap sekolah di Indonesia menjadi nyaman bagi anak-anak? Apakah Anda mampu membuat setiap anak tumbuh dengan unik sesuai karakter mereka?” Jika jawabannya “tidak” maka sebaiknya Anda yang sudah pernah atau berniat mengatakan itu, saya sarankan untuk berpikir ulang. Memaknai lagi apa itu kemerdekaan.
Memaknai Hari Kemerdekaan bukan sebatas upacara saja, Bung! Betapa ngerinya mental anak Indonesia yang hanya mengetahui bahwa setiap tanggal 17 Agustus adalah hari upacara bendera. Apa bedanya dengan apel pagi? Kemerdekaan lebih dari sekadar sebuah bendera yang berwarna merah dan putih berkibar di angkasa. Apakah anak-anak Anda tahu bagaimana proklamator kita menyatakan kemerdekaan negara ini? Mungkin saja mereka berpikir di televisi, setidaknya itu yang pernah terlintas di benak anak-anak saya.
Kami para homeschooler, kami merdeka. Kami bebas mempelajari apa saja sesuai minat. Kami tidak terpaksa untuk belajar bahasa Mandarin jika kami suka bahasa Jawa. Kami bebas bergaul dengan siapa saja. Kami tidak membatasi kapan harus ngobrol, kapan harus duduk diam berjam-jam untuk belajar. Kami bebas untuk memilih di mana kami mau belajar, apakah di kebun, di dapur, bahkan di museum.
Kami bersosialisasi lintas agama, lintas budaya, lintas usia. Kami bisa ngobrol dengan petani hidroponik yang kebetulan kami temui dan belajar banyak darinya. Kami punya guru banyak, semua teman-teman Ayah dan Ibu dan semua orang yang kami temui. Kami belajar bukan untuk jadi karyawan tapi untuk jadi kreator.
Mereka yang melabeli kami dengan merek negatif itu juga guru kami. Kami jadi rajin mendoakan mereka karena mereka tidak mengetahui perbuatan mereka. Kami memerdekakan pendapat orang lain. Memaksakan pendapat sama dengan penjajahan. Merdeka butuh keyakinan penuh. Tak ada kata setengah merdeka. Itulah tekad para pejuang kita. Merdeka penuh, bukan setengah-setengah. Merdeka!
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Artikel asli ada di Home Education: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

